Keutamaan Silaturrahmi yang Penting Dipahami oleh Muslimah

Keutamaan Silaturrahmi yang Penting Dipahami oleh Muslimah

Keutamaan Silaturrahmi – Bagi muslimah, berkunjung dan berkumpul dengan kerabat maupun sahabat adalah hal yang cukup menjadi kebiasaan umum. Ditambah dengan kemampuan berbicara dan mengobrol dalam waktu yang lama, membuat muslimah selalu ingin berkunjung dan berkumpul sesama mereka. Tapi, sudahkah muslimah memahami keutamaan silaturrahmi? Padahal berkunjung dan berkumpul yang sering muslimah lakukan tersebut termasuk bagian dari silaturrahmi.

Sehingga, bila muslimah memahami keutamaan silaturrahmi, maka berkunjung dan berkumpulnya akan lebih bermanfaat. Niatnya demi keutamaan silaturrahmi. Maka menjadi mulialah kunjungan dan kumpulan para muslimah.

Selain itu, muslimah juga akan mulai memperbaiki isi kunjungan dan kumpulan tersebut, agar bernilai utama sebagaimana keutamaan silaturrahmi. Katakanlah, dalam proses berkunjung dan berkumpul itu diisi dengan obrolan dan pembicaraan yang bagi muslimah mungkin bisa panjang waktunya, maka obrolan dan pembicaraan seperti apa yang selaras dengan keutamaan silaturrahmi?

Hal inilah yang akan kita ulas dalam tulisan keutamaan silaturrahmi kali ini. Kita akan membuka kembali firman Allah yang terdapat pada surat dengan nama perempuan yaitu surat An Nisa’. Ada dua ayat dalam surat An Nisa’ yang bisa kita renungi kembali terkait tema keutamaan silaturrahmi.

Keutamaan SIlaturrahmi (1)

Pertama adalah Ayat 1

Ayatnya sebagai berikut:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Ini adalah hal pertama untuk memahami keutamaan silaturrahmi, yaitu memahami asal yang satu. Bahwa keutamaan silaturrahmi yang mendasar adalah bahwa itu merupakan keniscayaan. Mau tidak mau, kita pasti akan bersilaturrahim, karena asal kita kan satu juga. Nah, karena menjadi niscaya, sebagaimana kebijaksanaan Allah mengatur sunah ciptaan-Nya, maka tentu tidak mungkin hal tersebut tak memiliki keutamaan. Bahkan sangat mungkin banyak keutamaan yang melekat padanya.

Asal yang satu itu kemudian berkembang-biak. Menjadi banyaklah anak manusia, termasuk kita di dalamnya. Semakin banyak, maka semakin sulit mengenal dan sulit bertemu. Dan inilah keutamaan silaturrahmi, agar kita dapat tetap saling mengenal dan menyadari bahwa asal kita semua satu, yaitu Adam dan Hawa.

Adapun fenomena berikutnya setelah berkembang biak adalah tradisi saling membutuhkan. Karena itu, dalam kehidupan manusia kemudian menjadi hal yang wajar bahkan tak bisa ditiadakan, yaitu saling meminta tolong dan saling-saling lainnya. Istilahnya saling, artinya timbal-balik. Dan begitulah manusia, tidak bisa hidup sendiri. Akan selalu saling membutuhkan, karena itulah dihajatkan silaturrahim. Inilah keutamaan silaturrahmi selanjutnya. Apa iya, kita menghajatkan saling meminta namun merusak dan memutus silaturrahim?

Dan memang, yang diperintahkan Allah selanjutnya adalah peliharalah hubungan silaturrahim. Yang dengan memelihara silaturrahim, kita akan mendapat penjagaan Allah. Sebab Allah akan menurunkan rahmat-Nya bila kita saling menyayangi sesama. Tiada permusuhan dan persengketaan. Inilah ujung keutamaan silaturrahmi; mendapat penjagaan Allah.

Jadi, dari ayat pertama surat An Nisa’ kita dipahamkan runutannya hingga silaturrahim kita pahami menjadi keniscayaan sebagai berikut: mulanya adalah asal yang satu, lalu berkembang-biak, selanjutnya saling membutuhkan, dan itu tidak bisa terpenuhi kecuali dengan terbangunnya tradisi silaturrahim yang baik. Sehingga kita mendapatkan penjagaan Allah sebagai keutamaan silaturrahmi.

Keutamaan Silaturrahmi (2)

Kedua adalah Ayat 114

Ayatnya sebagai berikut:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Nah, karena keutamaan silaturrahmi adalah untuk mendapatkan rahmat-Nya demi mendapat perlindungan-Nya, maka selanjutnya kita perlu perhatikan betul hal-hal yang mengisi agenda silaturrahim kita. Pada ayat kedua yaitu ayat 114 ini, sesungguhnya dijelaskan tiga konten dalam setiap ajang silaturrahim. Agar kita mendapatkan keutamaan silaturrahmi.

Pertama; kita hendaknya mengisi silaturrahim dalam rangka saling mengajak bersedekah atau mendorong untuk sedekah.

Kenapa bersedekah? Karena bila tradisi bersedekah telah sama-sama digemari, hilanglah segala rasa ingin untung sendiri yang bisa menjadi faktor perusak silaturrahim. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan keutamaan silaturrahmi, maka hendaknya kita menjaga agar silaturrahim itu tidak rusak dengan cara menumbuhkan semangat berbagi dan mengabaikan keuntungan pribadi. Yaitu dengan mengisi agenda silaturrahim kita untuk saling mendorong bersedekah. Bahkan Allah subhanahu wata’ala telah tegaskan bila hal ini tak terperhatikan maka tidak ada kebaikan dalam silaturrahim kita. Bila tidak ada kebaikan, maka tidak ada pula keutamaan silaturrahmi yang seharusnya ada.

Kedua; kita hendaknya mengisi silaturrahim dalam rangka saling mengajak berbuat baik atau mendorong untuk berbuat baik.

Kenapa berbuat baik? Karena bila tradisi berbuat baik telah sama-sama dijalani, hilanglah segala sikap yang dapat merusak silaturrahim. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan keutamaan silaturrahmi, maka hendaknya kita menjaga agar silaturrahim itu tidak rusak dengan cara menumbuhkan semangat berbuat baik agar tidak saling melukai. Yaitu dengan mengisi agenda silaturrahim kita untuk saling mendorong berbuat baik. Bahkan Allah subhanahullah wata’ala telah tegaskan bila hal ini tak terperhatikan maka tidak ada kebaikan dalam silaturrahim kita. Bila tidak ada kebaikan, maka tidak ada pula keutamaan silaturrahmi yang seharusnya ada.

Ketiga; kita hendaknya mengisi silaturrahim dalam rangka saling mendamaikan atau mendorong untuk berdamai.

Kenapa berdamai? Karena bila tradisi berdamai telah sama-sama dicintai, hilanglah segala tindakan yang dapat merusak silaturrahim. Jadi, kalua kita ingin mendapatkan keutamaan silaturrahmi, maka hendaknya kita menjaga agar silaturrahim itu tidak rusak dengan cara menumbuhkan semangat berdamai agar masalah tidak berlarut tanpa solusi. Yaitu dengan mengisi agenda silaturrahim kita untuk saling mendorong berdamai. Bahkan Allah subhanahu wata’ala telah tegaskan bila hal ini tak terperhatikan maka tidak ada kebaikan dalam silaturrahim kita. Bila tidak ada kebaikan, maka tidak ada pula keutamaan silaturrahmi yang seharusnya ada.

Apabila ketiga hal tersebut menjadi isi silaturrahim kita, maka Allah subhanahu wata’ala telah janjikan bagi kita pahala. Dengan demikian, tanpa terasa seiring silaturrahim demi silaturrahim -yang sering kali waktunya pun tidak singkat-, kita telah memupuk pahala demi pahala. Sungguh, bukankah tiada hal lain yang kita harapkan selain pahala yang berguna bagi hari akhir kita?

Keutamaan Silaturrahmi (3)

Titik Rawan yang Potensi Merusak Keutamaan Silaturrahmi

Keutamaan silaturrahmi tersebut biasanya berpotensi rusak bila kita berada pada titik rawan berikut: saat punya kuasa. Itulah titik rawannya.

Kenapa? Sebagaimana firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 22:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Yang artinya: “Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?

Sebagai umat Muhammad, kita harus menyadari ayat tersebut berulang-ulang. Bahwa, itulah titik rawan punya kuasa. Berpotensi sewenang-wenang, lalu merusak bumi dan memutus silaturrahmi. Dan biasanya, hilangnya keutamaan silaturrahmi oleh pihak-pihak yang punya kuasa. Karena itulah kita diwanti-wanti melalui ayat tersebut.

Jadi, bila kondisi kita semakin baik dari kebanyakan manusia, segeralah mewaspadai diri. Karena bila luput mewaspadai diri, tanpa sadar kita akan cenderung membuat kerusakan dan cenderung pula memutus hubungan kekeluargaan.

Berapa banyak silaturrahim yang telah lama dirawat akhirnya rusak hanya karena salah satu pihak mulai merasa punya kuasa atas yang lainnya? Semoga kita tidak termasuk golongan yang bila sudah punya kuasa akan cenderung membuat kerusakan dan memutus hubungan kekeluargaan.

Dengan siapapun, janganlah memutus hubungan kekeluargaan. Sebab, bila ada keutamaan silaturrahmi, maka sebaliknya juga ada kehinaan memutus silaturrahim. Maka dapatkanlah keutamaan, jangan justru mendapat kehinaan.

disajikan oleh Irfan Azizi – Kaderisasi Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (BPP FLP)

| Istanbul, 21 Oktober 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *