Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah (Al Quran Center Ummu Habibah)

Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah (Al Quran Center Ummu Habibah)

Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah adalah pesantren tahfizh yang mengkhususkan diri hanya menerima santriwati. Yaitu Pesantren Tahfidz Quran Putri khusus anak puteri. Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah ini didirikan oleh almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh th 2009. Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibahterletak di jl Al-Munawaroh Rt 01/Rw 01 Kelurahan Belendung. Kecamatan Benda Kota Tangerang Banten.

Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah ini adalah bagian dari mimpi besar untuk mewujudkan  semangat membangun manusia Indonesia. Ini bukan sekedar impian tanpa arah, ini adalah cita-cita dan semangat untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya  dimulai dengan mendidik anak-anak putri agar mencintai dan menghafal Al-Qur’an.

 

pesantren tahfidz quran putri ummu habibahIde besar dan cita-cita mulia mewujudkan berdirinya Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah ini lahir setelah almarhumah Yoyoh Yusroh sering  berkunjung ke Palestina melihat dari dekat perjuangan para ibu Palestina yang tegar mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya untuk dipersembahkan kepada perjuangan jihad melawan Zionis Israel. Mereka gigih  membekali anak-anaknya dengan kemampuan menghafal al-Qur’an sebelum memegang senjata. Karena menghafal Al-Qur’an adalah bagian dari persiapan ruhiyah mental spiritual dalam perjuangan melawan penjajah Israel.

Seluruh warga Palestina yang hidup dibawah tekanan Israel giat berjuang dengan segala daya dan kekuatan. Sebelum mempersiapkan kekuatan fisik, terlebih dahulu disiapkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah ini dibangun dengan interaksi yang kuat dengan Al-Qur’an sebagai sarana meningkatkan hubungan dengan Allah. Karena disitulah sumber kekuatan mereka. Setiap tahun ribuan santri diwisuda sebagai Huffazh ( bentuk jamak dari hafizh, penghafal dan penjaga al-Quran),  hasil dari pendidikan Lembaga Tahfizhul Qur’an yang menjamur dan tersebar di seluruh Gaza Palestina.

Semangat dan spirit perjuangan Palestina itulah yang dibawa oleh Almarhumah Yoyoh Yusroh ke dalam Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah.  Ada tiga lembaga dalam naungan yayasan Al-Qur’an Center Ummu Habibah yaitu Lembaga Tahfizh Al-Qur’an Ummu Habibah, SD Nature Islam dan Madrasah Diniyah Robby Rodhiyya.

Nama Ummu Habibah diambil dari nama salah seorang istri Rasulullah  (ummahaatul mukminiin) yang bernama asli Ramlah binti Abu Sufyan, memiliki seorang puteri bernama Habibah, hingga nama Ramlah  lebih dikenal dengan sebutan/ gelar Ummu Habibah.

Ummu Habibah dikenal sebagai Shohabiyah yang kuat akidahnya. Di awal masa dakwah cahaya  Islam terbit di Makkah, Ummu Habibah sudah menyatakan keislamannya bersama suaminya. Disaat penindasan dan penolakan para musyrikin Makkah makin kuat terhadap para shohabat dan shohabiyah benerasi pertama, Akhirnya Rasulullah mengizinkan mereka untuk berhijrah. Negeri yang dipilih untuk  berhijrah adalah  Habasyah, sekarang Etiopia di Afrika.

Ummu Habibah ikut berhijrah  bersama suaminya, namun setelah tinggal di Habasyah beberapa lama, Terjadi musibah yang sangat mengguncang jiwa. Sebuah peristiwa yang sangat berat mendera Ummu Habibah. Betapa tidak, di negeri perantau, hidup sebagai pengungsi, jauh dari keluarga dan sanak saudara, terlebih lagi mendapat tekanan dari ayahnya yaitu Abu Sufyan yang merupakan tokoh musyrikin yang menentang paling keras dakwah Islam. Musibah itu lebih dahsyat dari kehilangan harta benda, karena menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, yaitu  suaminya murtad, masuk ke agama Nasrani, karena tinggal dan bergaul dengan di tengah-tengah masyarakat beragama Nasrani.

Ummu Habibah merasa galau, binging dan shock, tetapi kesadarannya segera pulih untuk menguatkan diri dalam perjuangan di negeri asing yang jauh. Perbedaan akidah tersebut menyebabkan perpisahan yang tidak dapat dielakkan. Ummu Habibah memilih bercerai daripada ikut dengan agama suaminya.

Ummu Habibah juga seorang Shohabiyah yang  tangguh dan waro’. Beliau  memiliki ayah yang ketika itu masih kafir, sehingga  harus bertahan hidup di perantauan tanpa suami dan tanpa ayah.  Namun situasi itu berujung manis, Allah takkan membiarkan hambanya menderita berkepanjangan, keteguhan dan kekokohan aqidahnya telah teruji, akhirnya Allah  memerintahkan agar Rasulullah   menikahinya.

Pernikahan itu terjadi pada tahun ke 6 Hijriah,  yang bertindak  sebagai wali adalah salah seorang kerabat Ummu Habibah yang sama-sama ikut mengungsi seorang sepupunya yang  beriman dan ikut berhijrah ke Habasyah yaitu Kholid bin Sa’id bin Al Ash bin Umawiyyah . Raja Najasyi menyiapkan mahar berupa 400 dinar emas, dan jamuan untuk perayaan pernikahan tersebut.  Raja negeri Habasyah yaitu Najasyi diam-diam  sudah memeluk Islam . Setahun setelah menikah, Ummu Habibah baru  kembali ke Madinah untuk bisa berkumpul dengan Rasulullah  dikawal  pasukan yang disiapkan oleh Raja Najasyi.

Ummu Habibah juga seorang yang fashih dan banyak meriwayatkan hadits. Dengan mengambil Nama dari sosok shohabiyah yang tangguh dan teguh tersebut, diharapkan para santri Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah akan menteladani pribadi shohabiyah yang sekaligus istri Rasulullah.

Selain itu Nama Ummu Habibah artinya ibu yang dicintai. Almarhumah Yoyoh Yusroh  ingin menghadiahkan pesantren ini kepada ibunda tercinta yaitu Hj Aminah, sebagai bentuk cinta dan bakti seorang anak kepada ibundanya.

pesantren tahfidz quran putri ummu habibah 4
Santri belajar di kelas

Adapun nama SD Nature Islam dipilih karena almarhumah Yoyoh Yusroh ingin menghadirkan nuansa alam (natur) islami dalam proses belajar mengajar. Diharapkan semangat belajar tersebut melahirkan  santri yang  mengusai bilingual, yaitu bahasa Ingris, dan bahasa Indonesia.

Nama Sekolah Diniyah Robby Rodhiyya artinya agar (Allah ) Rabbku Meridhoi, penamaan ini dari Ustadz Umar Al-Faruk SE karena ingin mengenang sebuah Taman Kanak-kanak, tempat dahulu Ustadz Umar Al-Faruk menikmati masa pendidikan di usia anak-anak. Sekolah TK tersebut adalah sekolah pertama yang pernah didirikan oleh almarhumah Yoyoh Yusroh yang merupakan  ibu kandung beliau.

pesantren tahfidz quran putri ummu habibah 3
Santri bermain di rooftop

Ketiga lembaga ini dikelola dalam lingkungan Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah, kurikulum dan kegiatan saling bersinergi. Diharapkan santri yang menikmati pendidikan di Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah akan mendapatkan tiga kemampuan sekaligus. Kemampuan secara akademis berupa ilmu pengetahuan yang menginduk kepada Kementrian Pendidikan Nasional. Kemampuan agama yang menginduk ke Departemen Agama, dan kemampuan menghafal Al-Qur’an. Sehingga anak didik tidak hanya hanya pandai menghafal Qur’an, tetapi juga pandai menguasai ilmu pengetahuan, menjadi pribadi yang cinta Al-Qur’an dan juga menguasai teknologi dan sain secara seimbang.

pesantren tahfidz quran putri ummu habibah 2
Santri bermain di dalam kelas

Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummu Habibah membatasi anak yang menjadi peserta didik hanya puteri berusia 6-12 tahun. Hal ini didasari oleh fitrah anak yang masih suci belum terkotori oleh kerusakan dunia pergaulan, dan memanfaatkan usia emas yang pada usia tersebut  pertumbuhan otak dan kecerdasan berkembang sangat pesat.

Namun belum genap dua tahun usia pondok pesantren anak usia dini ini, disaat sarana dan prasarana belum memadai, tiba-tiba semua pengurus Yayasan, dan para guru dan orang tua santri dikejutkan dengan musibah besar yang menimpa keluarga ibunda Yoyoh Yusroh.

Sebuah kecelakan tunggal  terjadi  pada mobil yang ditumpangi oleh ustadzah Yoyoh Yusroh sekeluarga. Kecelakaan tersebut  menyebabkan wafatnya ibunda Yoyoh Yusroh, dan luka parah suami beliau Ustadz Budi Darmawan, dan beberapa anggota kelurga lain. Semua civitas ponpes tahfidz putri ini harus rela kehilangan beliau. Ibunda Yoyoh Yusroh adalah sosok pribadi yang teguh, komitmen, dan bervisi besar. Beliaulah  yang selama ini selalu menjadi teladan nyata, dan mensupport  dengan nasihat, ide, gagasan, dana, bimbingan dan teladan.

Tak dapat dilukiskan bagaimana perasaan para pengurus dan civitas Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah. Guncangan dahsyat, galau, bingung, sedih bercampur jadi satu melanda seluruh personal. Namun kami sadar bahwa semua ini adalah ketentuan dan takdir Allah  . Kami tak boleh larut dalam kesedihan, dan kegalauan yang berkepanjangan. Kami harus segera bangkit, kami harus segera berbenah diri. Para santri membutuhkan kami. Masyarakat menanti langkah kami selanjutnya. Kesedihan ditinggalkan oleh ibunda Yoyoh Yusroh harus ditepis dan dikikis habis. Buktikan cinta dan kasih sayang kami kepada Yoyoh Yusroh dengan terus mengembangkan dan memanaj pondok pesantren anak usia dini ini agar terus berkembang menjadi lebih baik. Agar cita-cita besar almarhumah menjadikan Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah yang menelurkan para pecinta dan penjaga Al-Qur’an di negeri ini tercapai.

Pelajaran yang harus kami petik adalah, manusia tak boleh bersandar kepada sesama manusia, karena suatu saat harus rela berpisah dan merasakan kehilangan. Kami harus mantap bersandar hanya  kepada Allah  , sang penguasa dan pemilik yang maha kuat dan maha kaya.

Kami harus segera bangkit, amanah ini harus tetap dijalankan. Pesantren ini adalah warisan, ide dan cita-cita besar Yoyoh Yusroh. Justru kami harus buktikan bahwa semua amanah ini harus menjadi pemacu kami untuk menapaki jejak beliau dan melanjutkan cita-citanya.

Tentu bukan hal yang mudah mengelola santri di usia belia, namun disitulah dibutuhkan kesiapan dan kesabaran ekstra, ketulusan dan cinta kasih dalam mendidik dan membina mereka. Mereka adalah anak-anak istimewa dengan segala keunikan dan keaktifannya.

Yoyoh Yusroh

            Almarhumah berwasiat kepada kami para guru, pembina dan pengelola Ummu Habibah agar memiliki pabrik sabar, bukan hanya stock sabar supaya terus bisa memproduksi kesabaran dalam menghadapi anak-anak didik.

Keterbatasan sarana dan ketersediaan SDM menyebabkan kami    membatasi hanya menerima setiap tahun ajaran hanya 20 orang santri saja per kelas. Saat ini jumlah seluruh santri dari kelas 1-6 adalah 115 santri.

Kendala terbesar justru pada ketersediaan SDM, yaitu muallimaat tahfizh (guru yang hafizhah) yang memiliki kesabaran dan siap mengajar membersamai anak-anak usia SD. Sehingga kami masih terus mencari dan merekrut muallimah dari berbagai  daerah dan berbagai pesantren.

pesantren tahfidz quran putri ummu habibah
santri bermain di belakang pesantren

In sya Allah Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah sedang merintis lembaga tahfizh untuk lulusan aliyah/SMA khusus akhwat/putri yang akan dibekali dengan program S1, tahfizh dengan kualitas hafalan bersanad (tersambung riwayat guru-gurunya sampai ke Rasulullah  ). Juga memberi kemampuan pedagogik, skill komputer dan berbagai keterampilan lain yang akan menunjang kemampuan mengajar. Mohon doa dan dukungan dari semua pihak agar Allah  memberikan kekuatan dan kemudahan dalam merealisasikannya.

Kendala yang lain adalah ketersediaan sarana dan prasara

pesantren tahfidz quran putri ummu habibah
Santri seksama mendengarkan dongeng 🙂

na. Sampai saat ini kami baru sanggup menampung 20 santri per kelas. Banyak calon santri yang terpaksa kecewa karena belum bisa kami tampung di Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah.

 

Dalam hal pengelolaan dana, Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah  berusaha menerapkan  sistem pembiayaan berdasarkan kemampuan orang tua santri yang disesuaikan dengan penghasilan mereka, diharapkan akan terjadi subsidi silang antara orang tua murid yang berkemampuan secara ekonomi dan yang kurang mampu. Alhamdulillah dukungan dari masyarakat khususnya para teman dan sahabat, relasi dari almarhumah Yoyoh Yusroh masih mengalir, semoga ini makin ditingkatkan danmenjadi amal  jariyah yang tidak akan putus sampai hari kiamat.

Selain itu Pesantren Tahfidz Quran Putri Ummu Habibah juga memberi beasiswa kepada anak yatim dengan mencarikan orang tua asuh. Inilah pesan almarhumah ustadzah Yoyoh Yusroh. Jangan sampai anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk menghafal al-Qur’an tidak dapat masuk hanya karena soal biaya. “ Ini adalah proyek Allah  biarlah Allah  yang akan mendanainya dengan cara-Nya”.

 

***Ruqoyah Ridwan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *